Drama Emak Karir

Sebagai seorang Emak Karir ada banyak drama kehidupan yang terjadi. Setiap emak mempunyai dramanya masing-masing. Jumlah episode pun tergantung kondisi emak dan lingkungan sekitarnya. Akhir dari drama adalah yang terpenting dan Anda sebagai Emak lah yang menentukan akhir cerita dari drama kehidupannya masing-masing.

Ini adalah drama emak karir versi saya:

Ketika Cutiku Habis

Masa-masa akan masuk kerja kembali setelah melahirkan merupakan masa yang paling berat untuk emak karir. Maka drama pun dimulai.

Episode 1. Pengen resign aja.

Keinginan untuk resign begitu kuat karena tidak tega melihat buah hati harus ditinggalkan dan dititipkan ke pengasuh. Tidak jarang air mata otomatis menetes ketika mengingat sebentar lagi harus berpisah selama 8 jam per hari.

Episode 2. Mimi dot.

Perjuangan membiasakan si bayi untuk minum lewat dot pun dilalui dengan penuh air mata, merasa bahwa diri ini adalah ibu paling jahat sejagad raya.

Episode 3. Hari pertama.

Hari pertama masuk kantor, terus menerus menelepon ke rumah menanyakan apakah si bayi rewel? Apa dia mau minum susu? Tidurnya nyenyak kah? Pup nya warna apa? Apa saya harus pulang lagi (padahal di kantor baru sejam)?

http://nkwiedha.blogspot.co.id

Dibawa santai ya mak, pernah dengar bahwa Ibu dan Anak punya ikatan batin yang kuat? Yup, semakin emak gelisah di kantor, maka anak d rumah pun merasakan kegelisahan yang sama dengan emak. Makanya anak menjadi rewel. (ini kata emak-emak jaman dulu, dan saya percaya). So, dibawa santai saja. Percayakan pada pengasuh di rumah, selalu sebut  anak dalam setiap doa kita.

Aku Ingin Pulang

Jam pulang kerja adalah jam yang paling ditunggu-tunggu oleh emak karir. Namun, ada saatnya emak karir tidak bisa pulang tepat waktu.

Episode 1. Rapat / kerjaan penting.

Kadang, ada rapat mendadak yang baru dimulai beberapa menit sebelum jam pulang. Sudah minta izin untuk pulang duluan, tapi bos bilang, “Tunggu sebentar lagi”. Ditunggu-tunggu tapi tidak beres-beres juga, duduk sudah gelisah,  setiap satu menit sekali cek jam tangan, dan sampai akhirnya Bos bilang, “Rapat Selesai”. Langsung kabuuuur.

Episode 2. Pelatihan sampai larut malam.

Dilema sih ini, di satu sisi senang karena mendapat tambahan ilmu, tapi di sisi lain sedih karena pelatihan yang pukul 9 malam baru selesai. Ketika pulang ke rumah, anak sudah tidur, pagi-paginya sudah harus berangkat kerja lagi.

Episode 3. Tugas ke luar kota.

Ini yang paling berat menurut saya. Meninggalkan 8 jam sehari saja sudah sedih bukan main, apalagi ini harus meninggalkan minimal 2 hari. Untungnya, zaman sekarang ada video call, lumayan mengurangi kerinduan.

Para Pencari Libur

Saat pergantian bulan, maka emak karir langsung cek kalender. Keluhan akan keluar dari mulut emak ketika melihat bulan ini tidak ada tanggal merah tambahan. Namun, sebaliknya jika menemukan ada tanggal merah tambahan di kalender, bahagia bukan main. Akhirnya bisa punya tambahan satu hari berkualitas dengan keluarga. Apalagi kalau ternyata tanggal merahnya mepet-mepet ke hari Sabtu dan Minggu.

Tetangga Masa Gitu

Ini nih drama yang paling sering ditemui dan paling bikin baper. Bukan hanya tetangga sih, tapi bisa jadi keluarga, temen deket, temen jauh, temennya suami, temennya orang tua, temen yang cuma kenal di medsos, bahkan orang yang kita ga kenal pun bisa menjadi pemeran di drama ini.

Contoh kalimat yang sering diucapkan pemeran di drama ini adalah:

“Jadi anaknya setiap hari ditinggal? Ga kasian? “

“Duh kasian ya jadi Anak Bibi”

Nah, kalimat-kalimat seperti itulah yang membuat kami, para emak karir, menjadi baper dan galau. Stay strong Emak, anggaplah mereka angin lalu *padahal nangis di pojokan”

Walaupun Emak jadi wanita karir, anaknya tetep jadi anak Emak ko, ga berubah jadi Anak Bibi atau Anak Nenek.

Begitu juga ketika anak Emak dikasih susu formula, tetep jadi anak Emak ko, bukan jadi anak sapi #eaaa #curcol

Hilangnya Sang Pengasuh

Untuk emak-emak yang menitipkan anaknya ke pengasuh seringkali deg-degan jika sehabis libur lebaran sang pengasuh tak kunjung datang. Padahal mencari pengasuh yang baik dan cocok sangat sulit. Jarang bisa didapatkan dalam 1 atau 2 hari.

Kalau yang menitipkan ke neneknya, si Emak akan merasa bersalah karena di hari tuanya, orang tua masih harus direpotkan dengan cucunya, walau banyak nenek yang bahkan meminta sendiri untuk mengurus cucunya.

“Ibu ikhlas, doain aja biar ibu sehat terus. Ibu malah ga ikhlas kalo dititipin ke orang lain”, begitu kata Ibu saya ketika saya menyampaikan kegalauan saya menitipkan anak saya ke beliau. Ya Allah, ampuni hamba :'(

Alangkah Lucunya (Anakku ini)

Emak karir harus siap menerima resiko tidak bisa melihat kelucuan anaknya setiap saat. Siap menerima resiko tidak bisa menjadi yang pertama melihat ‘kabisa’ anak.  Di kantor hanya bisa senyum senyum melihat kiriman dari orang rumah tentang kelakuan si kecil.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkaca-kaca di kantor, ketika dapat kiriman video tentang anak saya berjalan untuk pertama kalinya. Antara terharu dan nyesek. Andai saya ada di rumah, saya bisa melihat langsung momen emas ini. Tapi ya sudah, dibawa senang saja hehe

 

Sesungguhnya, seorang Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja setiap orang memiliki cara yang berbeda.

Saya percaya tidak ada drama yang melulu sedih, pasti ada bahagianya. Emak hanya harus percaya bahwa drama kehidupan emak akan berakhir dengan happily ever after, sehingga tidak berlarut-larut dalam kesedihan, kegalauan, kebaperan, dan kesensitifan. Serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Doakan semua pemeran drama kehidupan Emak selalu sehat dan bahagia.

Halo, emak-emak karir !!

Yu, saling menguatkan. Hidup ini akan lebih indah jika mempunyai teman untuk saling menguatkan, saling memberikan motivasi, dan saling berbagi ilmu.

#STOPNYINYIR #CUKUPLAMBETURAHAJAYANGNYINYIR #EMAKMAHJANGAN

 

1 Comment

  1. octyvz

    April 6, 2017 at 8:21 am

    i feel you ichaaaaaaa :'( :'( :'(

    #cukuplambeturahajayangnyinyir hahaha

Leave a Reply