Naik Pesawat

Buat aku pesawat adalah alat transportasi mahal.

Jadi naik pesawat adalah sesuatu yang mewah. Makanya dulu sempat dituliskan sebagai salah satu wishlist.

Wishlist itu tercapai beberapa bulan setelah menikah. Suami ngajak babymoon ke kota malang dan perginya naik pesawat ke surabaya.

Rasanya seneeeeng banget.

Sayangnya proses sebelum naik pesawatnya aku ga perhatiin, cuma ngekor-ngekor suami. Tau-tau naik pesawat aja. Hehe

Suami sengaja pilih tempat duduk aku di deket jendela. Aku udah bayangin pas pesawat akan lepas landas itu rasanya pasti mirip kalau naik roller coaster pas bagian nanjak dan bener aja, rasanya seperti itu.

Pas di atas nya, kata suami rasanya kaya naik mobil, tapi menurut aku sih engga, lebih kaya duduk di kursi aja karena ga terlalu terasa pergerakannya kecuali kalau lagi nabrak awan dan cuaca buruk.

Nah kalau waktu mendarat, aku mikirnya pesawatnya akan menukik. Ya mirip roller coaster pas bagian turun. Jd ketika ada pengumuman pesawat akan mendarat beberapa saat lagi, aku udah pegangan erat ke suami sambil zikir. Taunya, pesawatnya ga nukik cuy. Ah aku malu. Haha.

Alhamdulillah setelah itu Allah ngasih banyak kesempatan aku naik pesawat ke kota-kota di Indonesia melalui dinas luar dari kantor.

Ibu aku sampai bangga, anaknya yang waktu sekolah dulu pemalu, pendiem, dan penakut bisa naik pesawat sendirian ke luar pulau. Haha. Lebayyy. But it’s true. Aku tuh jaman sekolah cemen kebangetan. Banyak kesempatan berharga yang hilang karena takut dan malu berlebihan.

***

Beberapa teman pernah bilang, “Enak ya, kerjanya¬† jalan-jalan terus, dibayarin pula.” Yaa, mereka ga tau aja sampai beberapa bulan yang lalu, aku kalau ditugaskan ke luar kota selalu nangis karena harus meninggalkan suami dan anak selama beberapa hari.

Ada juga tetangga yang bilang ke ibu aku, “Wah anaknya ke luar kota terus ya? Sering dapet oleh-oleh dong.” Ibu cuma senyum aja, karena kenyataannya aku jarang bawa oleh-oleh.

Kenapa? Ga sayang sama Ibu?

Tentu saja tidak, rasa sayang aku ke Ibu tidak bisa dilihat dari berapa banyak oleh-oleh yang aku bawa.

Karena aku ke luar kota itu buat kerja loh. Bukan buat jalan-jalan. Kalau bisa jalan-jalan di sela-sela bekerja itu adalah bonus dan tidak selalu bisa dapat kesempatan untuk jalan-jalan, bahkan hanya sekedar beli oleh-oleh pun kadang ga sempet.

Nah, kalau sedang merasa sedih karena harus dinas ke luar kota, aku selalu teringat doa dan harapan aku selama ini. Aku juga sekarang berusaha untuk selalu berpikiran positif karena aku percaya Allah tau mana yang terbaik buat hamba-Nya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal dia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” QS. Al Baqarah:216

Baidewey, tulisan ini ditulis saat aku duduk di pesawat sambil memandang pemandangan luar biasa dari jendela pesawat.

2 Comments

  1. Anisa

    February 22, 2018 at 12:56 pm

    Wah mbaak, bikin saya tahu gimana rasanya jadi ibu yang bekerja. Makasih udah berbagi pengalamannya mbaaak. Semangat terus mbaaak:)

  2. octyvz

    March 5, 2018 at 2:19 am

    pas ke kaltara? kalteng?

Leave a Reply