Menyapih dari Dot

Bulan januari kemarin, usia Rafa menginjak dua tahun.

Untuk ibu yang anaknya minum ASI, saat anak memasuki usia dua tahun pasti sudah persiapan dengan proses sapih. Ada yang sudah mulai sejak beberapa minggu sebelumnya, ada juga yang baru akan memulai.

Rafa sudah lepas ASI sejak umur 7 bulan. Sejak itu, Rafa minum susu formula menggunakan dot.

Sebelum tidur baik itu tidur siang atau tidur malam, Rafa selalu minum susu dengan dot. Kalaupun tidak ingin tidur, Rafa akan minum susu di dot dengan posisi tiduran. Sekali minum habis 200 ml. Dalam sehari minimal 2x dia minum susu. Yang bikin sebel, dia ga mau pegang botol dot nya sendiri. Kalau dipaksa pegang sendiri, pasti ngamuk.

Tengah malam, Rafa pasti bangun untuk minta susu. Yang ngasih susu nya harus saya atau neneknya. Ayahnya ga boleh kasih dia susu.

Nah saat Rafa dua tahun, saya sempet ngobrol dengan temen dan keluarga apa Rafa harus sapih dot juga? Kebanyakan merespon dengan ga usah sapih, dot mah nanti aja sapihnya, tiga tahun juga bisa. Jadi saya santai aja.

Tapi beberapa minggu yang lalu, saya baca tulisan (lupa dimana bacanya) kalau anak suka minum susu formula tengah malam dapat menyebabkan gigi rusak. Terus keingetan sama gigi Rafa yang sudah mulai bolong di bagian depan dan ada flek kuning yang susah hilang, padahal saya merasa rajin sikat gigi Rafa.

Setelah itu, saya jadi berniat untuk sapih dot. Apalagi baca juga artikel yang bilang dengan lepas dot, kemungkinan nafsu makan anak akan bertambah. Rafa itu makannya susah. 1 hari makan bagus, 3 hari susah makan. Gitu aja terus. Berat badannya jadi susah banget naik.

Sampai saya udah kenyang banget denger yang komentar, “Ko Rafa kecil sih?”, “Aduh ini kurus banget badannya.”

Senyumin aja sambil bilang, “Yang penting sehat.”

Intinya saat niat itu muncul, langsung saya praktekin tanpa sounding / bilang apapun sebelumnya. Ini salah memang, haha. Saya langsung prakteknya pun di waktu yang salah, yaitu saat Rafa minta susu tengah malem dan langsung saya bilang, “Minum susunya di gelas ya nak.”

Apa yang terjadi? Tentu saja perang dunia. Huah. Nangis teriak-teriak. Diginiin salah, digituin salah. Ya iyalah, dia pasti kaget dengan perubahan sikap ibunnya yang tiba-tiba kejam.

Sisa malam dihabiskan dengan Rafa yang mau tidur lagi tanpa minum susu tapi kebangun setiap sejam sekali. Rewel abis.

Pagi nya barulah saya kasih tau kalau Rafa sudah besar, minumnya pake gelas ya atau pakai sedotan. Pokonya seharian itu saya selalu bilang seperti itu. Botol dot saya sembunyikan agar tidak terlihat oleh dia. Saat shalat, tidak pernah lupa untuk mendoakan Rafa agar dimudahkan dalam proses sapihnya.

Akhirnya malam tiba, waktunya Rafa tidur dan perasaan saya…

Pas dia minta susu, saya bilang, “Pake gelas ya.” Dia ga mau, tapi akhirnya tetep mau tidur tanpa nangis. Tengah malem pun, ga ada drama lagi.

Malam-malam berikutnya aman, bahkan ga ada bangun tengah malam buat minta susu. Sekarang Rafa minum susu UHT. Susu formula yang saya buatkan dalam gelas masih diminum tapi lama banget habisnya. Beda kalau minum susu UHT di dalam kotak. Dalam sehari minimal 3x minum susu UHT 120 ml. Porsi makan pun jadi lebih banyak, entah memang pengaruh lepas dot atau bukan.

Alhamdulillah. Rafa baik sekali mau diajak berubah.

Buat Ibu-ibu yang sedang atau akan menyapih dari botol atau dot, tips dari saya adalah :

 

dan…

3 Comments

  1. Anisa Kharismawati

    March 12, 2018 at 5:25 am

    Luar biasa mbak bisa cepet banget gitu prosesnya. Anak saya bulan depan 2th mbak sekarang udah mulai dag dig dugnya hehe

    1. annisaa_ica_blog

      March 13, 2018 at 8:49 am

      Iya Alhamdulillah. Mudah-mudahan mba juga lancar ya, dramanya jangan lama-lama hehe

  2. octyvz

    April 3, 2018 at 3:01 am

    rekor duniaaaa! hahaha

Leave a Reply