Aku si Manusia Sombong

Beberapa waktu yang lalu, aku pergi kerja dibonceng suami naik motor. Di perjalanan tiba-tiba liat murid aku, dulu aku pernah jadi wali kelasnya.

Dia lagi sapu-sapu jalan. Pake seragam penyapu jalan. Air mata otomatis netes. Nyesek banget di dada.

Suami yang liat dari spion langsung tanya aku kenapa. Aku cerita kalau aku sedih liat murid aku jadi penyapu jalan.

Suami aku tanya lagi, kenapa aku mesti sedih. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala, ga tau kenapa. Pokoknya dada berasa sesek dan air mata turun gitu aja.

Suami aku akhirnya tanya lagi, “Lebih sedih mana liat murid kamu jadi tukang sapu atau jadi pemakai narkoba? Atau jd copet? Atau jadi pelakor?”

Aku diem.

Suami aku bilang, “Harusnya kamu bangga. Murid kamu itu hebat, dia ga gengsi, ga malu, dan yang penting kerjaannya halal.”

Astaghfirullah. Disitu aku kaya ditampar. Dada aku makin nyesek. Malu banget sama suami, sama Allah, sama semua. Malu karena aku sombong banget.

Aku ga suka dengan orang sombong. Tapi ga sadar bahwa aku juga manusia sombong.

Sejak itu aku istighfar, mohon ampun sama Allah.

**

Sebagai (mantan) guru aku bangga ketika melihat murid aku berhasil.

Berhasil itu relatif.

Untuk ‘dia’ yang ada di cerita ini, aku bangga padanya karena berhasil mendapatkan pekerjaan yang halal di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

Nak, terimakasih sudah memberikan tamparan di hati Ibu.

Semoga dapat menjadi pengingat untuk Ibu agar selalu bersyukur dan tidak putus asa.

3 Comments

  1. Keven

    March 25, 2018 at 11:59 am

    Sebagai sesama guru, saya sangat mengerti isi hati Mbak. Gpp Mbak Annisaa. Dia jadi tukang sapu jalan hanya untuk startnya aja. Selama dia rajin, suatu hari dia pasti jadi seseorang yg bisa membanggakan mereka-mereka yg pernah jadi gurunya =)

    1. annisaa_ica_blog

      March 26, 2018 at 12:32 am

      Aamiin. Mudah-mudahan jadi titik awal perjuangan dia menuju masa depan yang lebih baik. Hehe

Leave a Reply