aku tidak baik baik saja

“Kuat ya ca..”

“Semangat ya ca..”

“Sabar ya ca..”

Ketika orang-orang mengucapkan kalimat itu, aku tersenyum sambil menjawab “Insya Allah”

 

Aku cuma manusia biasa. Aku tidak bisa terus menerus kuat, semangat, dan tersenyum.

Seperti saat ini..

Suami sedang menjalani kemoterapi siklus kedua. Sudah hari ke-5 rawat inap di rumah sakit, setelah dua minggu berada di rumah. Dokter bilang, suami harus menginap di rs selama satu bulan.

Rafa yang biasanya tidak mau ditelepon apalagi video call, tiba-tiba terus menerus video call. Dalam satu hari bisa berkali-kali dan dalam waktu yang lama. Senang? Tentu saja karena saya dan suami amat sangat rindu. Tapi di setiap video call, Rafa selalu bertanya, “Kapan pulang bun? Disini aja sama dede, ayah sama nenek aja.”

dan hati aku hancur.

Di sampingku, suami tersenyum sambil menahan sakit karena suntikan yang terus menerus ia terima. Mual dan muntah efek kemoterapi membuat makanan sama sekali tidak masuk ke tubuhnya. Berat badannya menurun, rambutnya rontok, dan tubuhnya lemah.

Di sana, di rumah ibuku, Rafa harus menjalani hari-hari bersama engki dan enin, kedua orang tuaku yang sudah tua. Bahkan ibuku pun sedang sakit. Anak macam apa aku yang masih menitipkan anak pada ibu yang sedang sakit.

Rafa pun mengalami penurunan berat badan yang drastis karena jadwal makannya berantakan. Aku sudah tidak pernah memasakkan makanan penuh gizi seperti dulu. Kata dokter, perubahan kondisi keluarga mempengaruhi psikologis rafa dan menjadi faktor yang turut mempengaruhi penurunan ini.

Sementara aku, terus menerus memikirkan tesis yang harus selesai di bulan januari danĀ  juga keuangan yang sama berantakannya dengan kondisi hati.

Aku terus menangis sampai dada terasa sakit, mata membengkak, dan kepala berdenyut.

 

Kamu yang membaca ini pasti bilang, “Istigfar ica.”

Aku istigfar ko.

Aku percaya Allah.

tapi aku butuh bercerita agar kepala ini ringan dan rasa sakitnya hilang

Leave a Reply