Why oh Why

Saat Bapak meninggal, ada seorang teman yang mengirimkan pesan seperti ini:

Semangat ca.. Semoga bapa ditempatkan di tempat terbaik. Inget didoain bukan ditangisin.

Respon saya setelah membaca pesan itu adalah marah.

Saya merasa kalimat itu bukanlah kalimat yang tepat dikirimkan untuk orang yang sedang berduka. Bahkan dikirim di H+1. Miungkin saya yang sedang sensitif, tapi saat itu saya benar-benar marah.

Saya mengetik kalimat balasan dengan cepat. Namun untung sebelum saya tekan SEND, saya sempat tarik napas panjang dulu. Sempet mikir dulu, apakah balasan pesan dari saya ini akan berdampak panjang atau tidak, sebari saya coba mengingat karakter teman saya ini.

Saya, si Plegmatis, males banget kalau harus terlibat konflik. Di saat saya marah pun, saya masih sempat memikirkan konflik apa yang akan terjadi kalau balasan pesan yang penuh emosi ini saya kirimkan.

Akhirnya saya balas dengan, “Iya makasih.”

***

Lalu kemarin, saya saling update kehidupan dengan seorang teman. Setelah saya cerita bagaimana situasi hidup saya saat ini, dia bilang, “harus kuat anak pertama mah.”

hmm~

***

Minggu lalu, salah satu kenalan yang sudah saya anggap adik, curhat. Dia bercerita kalau dia adalah manusia lemah.

Saya tanya, kenapa kamu mengganggap diri kamu lemah?

Dia memiliki masalah keluarga. Hal ini menyebabkan dia stress dan tertekan. Maka ia mencoba bercerita pada beberapa orang.

Orang yang dijadikan tempat bercerita malah mengatakan bahwa masalah yang ia hadapi tidak seberapa dibandingkan dengan masalahnya.

Maka ia coba mengeluarkan keluh kesah pada ibunya, sambil menangis ia keluarkan semua yang ada di pikiran dan hatinya, tapi kata-kata yang keluar dari mulut ibunya adalah lelaki itu harus kuat.

Akhirnya, dia tidak percaya siapapun lagi. Dia semakin terpuruk dan mulai menyakiti dirinya sendiri secara fisik, berharap rasa sakit yang selama ini ia rasakan pindah ke bagian tubuh yang ia sakiti.

***

Naha sih kita dituntut untuk selalu kuat?

Memangnya salah kalau merasa sedih?

Apa tidak boleh menangis?

Gini loh markonah, kita itu manusia.

Eh kamu manusia bukan?

Kalau kamu manusia, tentu kamu tau kalau manusia itu sama Allah dianugerahkan berbagai emosi. Cinta, Benci, Bahagia, Sedih, Kecewa, Takut, dan banyak lagi.

Semua emosi ini ada untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Ada kalimat di buku Emotional Healing Therapy karya Irma Rahayu,

“Emosi tidak akan pernah bisa hilang, dia akan selalu ada, datang dan pergi. Kita hanya membutuhkan satu pengertian, bahwa ketika mereka hadir, bila positif maka bersyukurlan dan nikmati, bila negatif maka berubahlah dan bergerak.”

Wajar ko kalau merasa sedih, kecewa, marah, dan emosi-emosi negatif lainnya. Yang ga wajar itu  kalau emosi-emosi negatif nya dipelihara, lalu akhirnya menjadi putus asa.

Mulai sekarang, kalau bertemu orang yang sedang dalam emosi negatif, baik itu perempuan ataupun laki-laki, aku akan BERHENTI bilang, Kamu Harus Kuat.

Selama kamu manusia, KAMU TIDAK HARUS SELALU KUAT.

 

Kenapa tidak coba bilang kalimat ini saja:

“Kamu Kuat, Kamu Hebat. Kamu Pasti Bisa Melewati Ini.”

Leave a Reply